Banyak pembaca di Lumajang dan daerah lain mencari jawaban mengapa sejarah mencatat kehancuran negeri. Al-Quran tidak hanya menuturkan kisah nabi dan orang saleh, tetapi juga mengabadikan jejak kaum yang runtuh agar generasi kemudian mengambil ibrah, bukan sekadar menikmati cerita masa lalu.
Salah satu isyarat penting terdapat pada Surat Al-Isra ayat 16. Ayat itu menggambarkan rangkaian yang berawal dari perilaku manusia, khususnya kelompok yang hidup mewah, sebelum tibanya ketetapan kebinasaan. Ketika mereka didorong menaati Allah namun justru berbuat fasik, hukuman pun menjadi layak dan negeri itu dihancurkan sehancur-hancurnya.
Proses rusaknya tatanan sebelum azab datang
Gambaran Al-Isra ayat 16 menekankan bahwa kehancuran negeri jarang datang tiba-tiba tanpa sebab sosial-moral. Kerusakan tumbuh dulu di tubuh masyarakat. Orang-orang yang memiliki pengaruh dan kemewahan diperintahkan agar taat, namun kedurhakaan mereka membuka jalan bagi “perkataan” atau ketetapan hukuman.
Dengan kata lain, kitab suci mengajak manusia melihat hubungan antara gaya hidup elite, penolakan terhadap kebenaran, dan kerapuhan peradaban. Pelajaran ini relevan bagi siapa pun yang peduli pada ketertiban sosial, termasuk warga yang ingin menjaga kohesi di tingkat desa hingga kabupaten.
Kaum Nabi Nuh dan penolakan terhadap dakwah
Contoh paling dikenal adalah kaum Nabi Nuh. Beliau berdakwah dalam rentang waktu sangat panjang, mengajak kaumnya meninggalkan kesyirikan dan kembali menyembah Allah. Sebagian besar justru menolak, mengejek, dan bertahan pada keyakinan lama.
Ketika ketetapan Allah tiba, air bah melanda. Peristiwa itu antara lain diabadikan dalam Surat Hud ayat 40–44. Kisah banjir besar itu menegaskan batas kekuatan manusia: saat keputusan Ilahi telah datang, tidak ada tipu daya duniawi yang sanggup menyelamatkan orang yang tetap ingkar.
Kaum ‘Ad: kekuatan yang berubah jadi kesombongan
Al-Quran juga menuturkan kaum ‘Ad yang hidup dalam kondisi kuat dan mampu membangun peradaban. Nabi Hud diutus agar mereka kembali kepada tauhid. Alih-alih merendah, mereka membanggakan daya yang dimiliki.
Dalam Surat Fussilat ayat 15 terekam sikap mereka yang merasa tak tertandingi: siapa yang lebih kuat dari kami? Kesombongan atas kemampuan fisik dan bangunan justru menjadi celah kehancuran. Kekuatan tanpa kendali moral, menurut isyarat kisah ini, mudah berubah menjadi sumber kejatuhan.
Ibrah untuk generasi kini di tanah air
Kisah-kisah tersebut bukan bahan nostalgia. Al-Quran mengajak pembaca menarik pelajaran ketika suatu kaum berpaling dari kebenaran, berbuat zalim, menolak seruan nabi, dan melampaui batas. Pola yang berulang adalah penolakan nasehat, keangkuhan status, serta kerusakan yang dibiarkan tumbuh di kalangan yang berpengaruh.
- Menjaga ketaatan dan menolak kesombongan atas sumber daya.
- Mengoreksi kedurhakaan di lingkar elite dan pemegang fasilitas.
- Menjadikan sejarah kaum terdahulu sebagai cermin, bukan hiasan ceramah semata.
Bagi masyarakat Lumajang, renungan ini dapat diterjemahkan ke dalam sikap sehari-hari: menguatkan kejujuran publik, menolak kesewenangan, dan merawat kepedulian sosial agar tatanan tetap kokoh. Kehancuran negeri dalam narasi kitab suci selalu diawali retaknya akhlak kolektif, bukan hanya bencana mendadak tanpa sebab.
Pada akhirnya, Al-Quran menempatkan pembaca sebagai pihak yang diundang berpikir. Siapa yang merenungi Al-Isra ayat 16 serta jejak kaum Nuh dan ‘Ad diharapkan lebih waspada terhadap fasad, kesombongan, dan penolakan kebenaran—sebelum kerusakan menjadi ketetapan yang tak terelakkan.
Sumber: Sindo News.
