HEADLINE
Indeks
Ekonomi

Arus Minyak Selat Hormuz Naik Lagi, Harga Global Melandai ke USD89

Pemulihan aliran energi lewat Selat Hormuz minyak kembali menjadi sorotan pasar global setelah lembaga keuangan Goldman Sachs Group Inc. merilis analisis terbaru. Volume minyak mentah dan produk olahan yang melintas jalur strategis itu disebut sudah mencapai sekitar dua pertiga atau 66 persen dari tingkat sebelum konflik berkepanjangan. Bagi pembaca di daerah, termasuk Lumajang dan Jawa Timur, pergerakan ini relevan karena berpengaruh pada ekspektasi harga BBM dan biaya logistik.

Harga minyak dunia yang sempat melonjak tajam kini cenderung mereda. Pada April 2026, harga sempat menembus di atas USD120 per barel, lalu bergerak turun ke kisaran USD89 per barel seiring membaiknya volume pengiriman di jalur sempit antara Teluk Persia dan Laut Oman tersebut.

Temuan Goldman Sachs soal volume ekspor

Analisis yang dipimpin Daan Struyven bersama Yulia Zhestkova Grigsby memaparkan bahwa total ekspor minyak mentah dan produk olahan melalui Selat Hormuz kini berada di kisaran 15 juta hingga 16 juta barel per hari. Angka itu masih 7 hingga 8 juta barel di bawah level sebelum konflik, namun jauh lebih tinggi dibanding titik terendah sebelumnya.

Pada Maret 2026, aliran sempat menyentuh palung sekitar 5 hingga 6 juta barel per hari. Lompatan dari level terendah itu menjadi penopang utama mengapa harga tidak bertahan lama di zona ekstrem, meskipun ketegangan geopolitik belum sepenuhnya reda.

Mengapa jalur ini sangat menentukan harga dunia

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu koridor energi paling krusial di planet ini. Gangguan singkat saja mampu memicu spekulasi harga, menekan asuransi kapal tanker, dan memperpanjang rute alternatif yang lebih mahal. Ketika volume kembali naik secara bertahap, tekanan di pasar berjangka biasanya mereda.

Pemulihan dua pertiga level praperang belum berarti kondisi sepenuhnya normal. Selisih 7–8 juta barel per hari dibanding masa damai tetap menjadi celah yang dipantau pedagang, bank investasi, dan importir Asia. Namun arah tren yang menanjak memberi sinyal bahwa pasokan tidak lagi sesempit titik terendah Maret 2026.

Dampak ke pasar dan sinyal bagi kawasan

Penurunan harga ke kisaran USD89 per barel memberi napas bagi negara pengimpor energi. Di Indonesia, pergerakan minyak global sering menjadi salah satu acuan perhitungan biaya transportasi, tarif angkutan barang, serta ekspektasi inflasi energi di tingkat daerah. Masyarakat Lumajang yang bergantung pada distribusi BBM dari jalur darat Jawa Timur turut merasakan efek tidak langsung bila harga acuan dunia stabil atau turun.

Meski demikian, volatilitas belum hilang. Setiap eskalasi di kawasan Teluk dapat kembali menahan kapal, menaikkan premi risiko, dan membalik arah harga dalam hitungan hari. Karena itu, laporan Goldman Sachs lebih dibaca sebagai potret sementara pemulihan arus, bukan jaminan kestabilan jangka panjang.

  • Aliran Hormuz: sekitar 15–16 juta barel per hari
  • Setara ±66 persen level sebelum perang
  • Masih 7–8 juta barel di bawah kondisi prakonflik
  • Titik terendah Maret 2026: 5–6 juta barel per hari
  • Harga acuan turun dari di atas USD120 (April 2026) ke kisaran USD89

Yang perlu dicermati ke depan

Pasar akan terus menguji apakah volume 15–16 juta barel per hari dapat bertahan atau naik lagi mendekati kapasitas praperang. Data kapal tanker, asuransi maritim, dan pernyataan resmi produsen Teluk akan menjadi penentu sentimen berikutnya. Untuk konsumen dan pelaku usaha di daerah, informasi ini membantu memahami mengapa harga BBM domestik tidak selalu bergerak linier mengikuti satu peristiwa saja, melainkan hasil akumulasi pasokan global, nilai tukar, serta kebijakan energi nasional.

Ringkasnya, teka-teki pelemahan harga minyak dunia mendapat penjelasan baru dari pemulihan arus di Selat Hormuz. Angka Goldman Sachs menegaskan pasokan membaik signifikan dari palung Maret, cukup untuk menahan harga di zona lebih rendah dibanding puncak April 2026, meski normalisasi penuh belum tercapai. Pantauan berkala tetap diperlukan agar antisipasi di tingkat nasional maupun daerah tetap realistis.

Sumber: Sindo News.

Tag: Selat Hormuz, harga minyak dunia, Goldman Sachs, minyak mentah, energi global, BBM, pasar minyak, Jatim