Moto Prix Pekanbaru menjadi sorotan publik setelah kejuaraan Piala Wali Kota sukses digelar di Sirkuit Non-Permanen Kompleks Perkantoran Wali Kota Pekanbaru, Tenayan Raya. Selain memperebutkan gelar juara, rangkaian balapan dua hari itu juga menonjolkan sisi kepedulian sosial dan peluang usaha bagi pelaku mikro. Bagi pembaca di Lumajang dan Jawa Timur yang mengikuti perkembangan otomotif daerah, pola penyelenggaraan seperti ini menarik dicermati sebagai contoh event olahraga yang menyentuh ekonomi warga.
Kegiatan berlangsung 22–23 Agustus 2026 dan puncaknya pada Ahad, 23 Agustus 2026. Ribuan penonton dapat menyaksikan seluruh seri tanpa tiket masuk. Wali Kota Pekanbaru H. Agung Nugroho menegaskan bahwa konsep gratis itu disengaja agar masyarakat merasakan manfaat langsung, bukan sekadar tontonan kompetisi.
Manfaat ekonomi di sekitar sirkuit nonpermanen
Kehadiran pembalap, mekanik, ofisial, komunitas otomotif, dan penonton menciptakan perputaran ekonomi di kawasan Tenayan Raya. Pemerintah kota membuka ruang berjualan bagi pelaku UMKM tanpa memungut biaya lapak. Langkah tersebut memberi kesempatan pedagang lokal memanfaatkan keramaian tanpa beban sewa yang biasanya memberatkan event sejenis.
Agung menilai olahraga otomotif dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan usaha kecil. Menurutnya, event resmi seharusnya memberi nilai lebih dari sekadar podium juara. Pola ini relevan dipelajari daerah lain yang ingin mengemas kejuaraan motor sebagai penggerak ekonomi kerakyatan, termasuk komunitas balap di Jatim yang kerap mencari format event ramah UMKM.
Donasi sosial Rp120 juta untuk korban bencana NTT
Sisi paling menonjol dari kejuaraan ini adalah keberhasilan menggalang dana kepedulian. Dari partisipasi publik dan pihak terkait, terkumpul donasi sebesar Rp120 juta yang dialokasikan membantu saudara terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur. Wali kota menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut serta menyumbang melalui momentum balapan.
Ia menekankan bahwa kebahagiaan terbesar penyelenggaraan bukan hanya antusiasme penonton, melainkan kemampuan event olahraga menyalurkan bantuan konkret. Dengan demikian, Moto Prix Pekanbaru diposisikan sebagai ajang kompetisi sekaligus saluran solidaritas lintas daerah.
Wadah resmi bagi pemuda dan upaya tekan balap liar
Selain aspek ekonomi dan sosial, Pemkot Pekanbaru menempatkan kejuaraan sebagai ruang positif bagi generasi muda penyalur bakat otomotif. Agung berharap hobi balap tersalurkan di lintasan resmi, bukan di jalan raya yang membahayakan. Ia meminta Dinas Kepemudaan dan Olahraga berkoordinasi dengan Polresta Pekanbaru agar event serupa dapat digelar secara berkala.
Usai diskusi dengan Kapolresta, harapan yang diutarakan adalah frekuensi sekitar tiga kali dalam setahun. Dengan wadah resmi yang rutin, pemerintah kota berharap aksi balapan liar di Pekanbaru berangsur menurun. Ke depan, skala kejuaraan juga diarahkan naik ke tingkat nasional agar lebih banyak pembalap berprestasi lahir dan dampak ekonomi kota semakin terasa.
200 pembalap, 15 kelas, dan podium ketat
Sekitar 200 pembalap dengan total mendekati 400 starter bertanding dalam 15 kategori kelas utama maupun supporting. Peserta datang dari berbagai daerah Sumatera, antara lain Pekanbaru dan wilayah Riau lainnya, Sumatera Barat, Sumatera Utara, serta Jambi. Persaingan berlangsung sengit hingga posisi podium sejumlah kelas baru ditentukan di putaran-putaran akhir.
- Juara Bebek Standard U-23: Ardia Farel Ramadhan (Bukittinggi)
- Lokasi: Sirkuit NP Kompleks Perkantoran Wali Kota, Tenayan Raya
- Akses penonton dan lapak UMKM: tanpa biaya
- Donasi terkumpul: Rp120 juta untuk NTT
Ardia Farel Ramadhan mengaku bersyukur finis pertama setelah sempat kehilangan posisi dan berhasil menyalip lagi di lap terakhir. Ia menilai layout sirkuit nyaman untuk cornering dan chicane, kondisi aspal tidak licin, serta cuaca mendukung. Harapannya, seri lanjutan segera digelar agar pembalap Sumatera punya lebih banyak panggung kompetisi di Pekanbaru.
Secara keseluruhan, Moto Prix Piala Wali Kota Pekanbaru memperlihatkan model event daerah yang memadukan kompetisi, ekonomi warga, dan aksi sosial. Bagi komunitas otomotif di luar Riau, termasuk peminat di Lumajang, kesuksesan ini menjadi rujukan bahwa balap resmi dapat dikelola meriah, terbuka, dan berdampak luas tanpa mengorbankan keselamatan di jalan umum.
Sumber: Tempo.
