Upaya memperkuat produktivitas tebu kembali menjadi sorotan setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau perkebunan Sugar Group Companies (SGC) di Kecamatan Gedung Meneng, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Kunjungan yang berlangsung pekan lalu itu disampaikan dalam keterangan yang dirilis Kamis, 3 September 2026, dengan penekanan pada ketahanan gula dalam negeri.
Bagi pembaca di Lumajang dan Jawa Timur, isu ini relevan karena Jatim termasuk kawasan yang historis bergantung pada tebu dan industri gula. Arah kebijakan pusat soal plasma rakyat, optimalisasi lahan, serta pengurangan impor gula putih berpotensi memengaruhi rantai pasok dan peluang petani di wilayah penghasil tebu, termasuk di sekitar kawasan selatan Jatim.
Apresiasi terhadap kontribusi SGC dan tenaga kerja
Di lokasi kebun SGC, Amran menyampaikan apresiasi atas peran perusahaan dalam perekonomian daerah. Ia menyoroti skala usaha yang besar serta penyerapan tenaga kerja yang mencapai total sekitar 40 ribu pegawai. Menurutnya, perusahaan sekelas itu tidak hanya memproduksi gula, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar areal kebun.
Amran menilai kehadiran industri gula berskala besar membantu pengembangan sektor pertanian setempat. Komitmen serupa dari pelaku usaha gula nasional diharapkan terus dijaga agar sejalan dengan target pemerintah menaikkan produksi dalam negeri.
Target kurangi ketergantungan impor gula putih
Inti pesan Mentan adalah memperkuat pasokan gula nasional lewat peningkatan hasil tebu. Ia berharap Indonesia tidak lagi mengimpor white sugar apabila langkah-langkah di lapangan berjalan konsisten. Salah satu titik yang disorot adalah kondisi plasma tebu rakyat yang disebut mencapai sekitar 86 persen dan perlu ditangani agar tidak menghambat produktivitas.
Amran menyinggung arahan Presiden agar kementerian mendapat dukungan anggaran untuk penanganan plasma tersebut. Bila perbaikan itu terwujud, ia optimistis kebutuhan gula putih dapat tercukupi, bahkan berpeluang surplus. Pernyataan itu menegaskan bahwa swasembada bukan hanya soal pabrik, melainkan juga kesehatan kebun rakyat sebagai pemasok bahan baku.
Optimalisasi lahan dan tebu rakyat
Pemerintah, kata Amran, mendorong optimalisasi lahan serta peningkatan produktivitas tebu, termasuk melalui pengembangan perkebunan tebu rakyat. Langkah ini dipandang penting untuk memperkuat pasokan bahan baku ke pabrik gula dan menstabilkan produksi nasional dalam jangka menengah.
Fokus pada tebu rakyat juga membuka ruang perbaikan pendapatan petani plasma jika produktivitas per hektare naik dan tata kelola kebun lebih baik. Tanpa perbaikan di hulu, target mengurangi impor akan sulit dicapai meski kapasitas pabrik sudah tersedia.
- Peningkatan produktivitas tebu di kebun inti dan plasma
- Penanganan plasma tebu rakyat agar lahan produktif kembali
- Penguatan komitmen industri gula nasional
- Pengurangan ketergantungan pada impor gula putih
Implikasi bagi daerah penghasil tebu di Jatim
Meski tinjauan lapangan berlangsung di Lampung, arah kebijakan yang disampaikan bersifat nasional. Daerah penghasil tebu di Jawa Timur, termasuk sentra di selatan yang berdekatan dengan Lumajang, perlu mencermati skema dukungan anggaran, rehabilitasi plasma, dan standar produktivitas yang akan diterapkan pemerintah pusat.
Koordinasi antara petani, pabrik gula, dan dinas terkait di daerah menjadi kunci agar program optimalisasi lahan tidak berhenti di wacana. Informasi resmi dari kunjungan Mentan ke SGC setidaknya memberi sinyal bahwa pemerintah menempatkan tebu sebagai komoditas strategis untuk ketahanan pangan manis nasional.
Secara keseluruhan, apresiasi terhadap SGC di Tulang Bawang dibarengi tuntutan kinerja: serapan tenaga kerja besar harus diimbangi kenaikan hasil tebu dan pengurangan impor. Keberhasilan di lapangan akan diukur dari pasokan gula putih yang stabil tanpa bergantung pada pasar luar negeri.
Sumber: Sindo News.
