HEADLINE
Indeks
Nasional

Enam Narwhal Bawa Sensor CTD ke Laut Dalam Fjord Greenland

Penelitian kelautan di Kutub Utara mendapat bantuan tak terduga dari narwhal Greenland. Enam ekor mamalia laut bertanduk panjang itu dilengkapi sensor dan secara alami menyelam ke zona yang jarang disentuh kapal ilmiah, termasuk di perairan fjord timur Greenland.

Bagi pembaca di Lumajang dan Jawa Timur, kabar ini relevan karena menyangkut pemahaman perubahan iklim global serta sirkulasi air laut yang memengaruhi pola cuaca tropis dalam jangka panjang. Data dari wilayah ekstrem seperti Greenland sering menjadi acuan model iklim dunia.

Kolaborasi ilmuwan dan enam narwhal di Scoresby Sound

Tim yang terlibat berasal dari Universitas Kopenhagen, Institut Sumber Daya Alam Greenland, serta mitra penelitian lain. Mereka memasang perangkat pada enam narwhal yang hidup di fjord Scoresby Sound, kawasan timur Greenland yang dikenal dalam dan sulit dilalui armada riset konvensional.

Setelah sensor terpasang, hewan-hewan tersebut dibiarkan menjalani rutinitas harian: berenang, mencari makan, dan menyelam. Peralatan ikut terbawa ke celah-celah fjord yang jarang diakses manusia, sehingga data terkumpul tanpa misi kapal yang mahal dan berisiko di perairan es.

Apa yang diukur sensor CTD di tubuh narwhal

Perangkat yang digunakan adalah sensor CTD. Alat ini mencatat konduktivitas listrik air untuk menaksir salinitas, sekaligus merekam suhu dan kedalaman. Kombinasi tiga parameter tersebut penting untuk memetakan lapisan air, arus lokal, serta karakteristik massa air di bawah permukaan fjord.

Sensor menempel pada tubuh narwhal selama kisaran 85 hingga 332 hari. Dalam periode itu terkumpul 2.060 catatan pengukuran kedalaman. Sebagian rekaman dilakukan pada kedalaman lebih dari 1.500 meter, zona yang menuntut ketahanan teknis tinggi jika dilakukan hanya dengan instrumen kapal.

Mengapa fjord Greenland sulit diteliti kapal biasa

Fjord di timur Greenland sering diliputi es, topografi curam, dan kondisi cuaca ekstrem. Kapal penelitian terbatas musim operasi serta biaya operasional yang besar. Pendekatan berbasis hewan memungkinkan pengambilan sampel berulang di lintasan alami narwhal tanpa harus menempatkan kapal di setiap titik selam.

Dengan cara ini, ilmuwan memperoleh deret data spasial dan temporal yang lebih rapat di jalur pergerakan satwa. Informasi tersebut melengkapi observasi satelit dan mooring tetap yang biasanya tidak menjangkau seluruh kolom air di lokasi terpencil.

  • Salinitas ditaksir lewat konduktivitas listrik air laut
  • Suhu dicatat bersamaan dengan kedalaman selam
  • Total 2.060 catatan kedalaman dari enam individu
  • Durasi pemasangan sensor antara 85–332 hari

Arti data laut dalam bagi pemahaman iklim

Profil suhu dan salinitas di laut dalam Greenland membantu menelusuri bagaimana air dingin dan massa air berlapis berinteraksi di kawasan polar. Perubahan di wilayah ini dapat terkait dengan pelemahan atau pergeseran pola sirkulasi yang pada gilirannya memengaruhi iklim regional di belahan bumi lain, termasuk Asia Tenggara.

Untuk komunitas pendidikan dan pemerhati lingkungan di Lumajang, temuan semacam ini bisa menjadi bahan diskusi tentang inovasi metode riset: memanfaatkan perilaku alami satwa liar secara etis dan terukur demi mengisi celah data ilmiah. Pendekatan serupa menuntut protokol pemasangan yang aman agar tidak mengganggu kesejahteraan hewan.

Secara keseluruhan, enam narwhal telah memperluas jangkauan observasi di Scoresby Sound hingga kedalaman ekstrem. Kolaborasi antara ahli biologi laut dan ahli oseanografi ini menunjukkan bahwa instrumen ringkas pada satwa penyelam dalam dapat menjadi pelengkap penting bagi armada riset tradisional di kawasan polar yang sulit dijangkau.

Sumber: Sindo News.

Tag: narwhal Greenland, sensor CTD, fjord Scoresby Sound, riset kelautan, Universitas Kopenhagen, salinitas laut, iklim polar, Laut Arktik