HEADLINE
Indeks
Nasional

Peringatan Megawati soal Es Grasberg: Isyarat Krisis Iklim bagi Daerah

Pembaca Lumajang News perlu mencermati peringatan soal es Grasberg Papua yang disampaikan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Di tengah rangkaian bencana dan anomali cuaca nasional, kondisi tutupan es di kawasan itu disebut makin mengkhawatirkan karena pemanasan global.

Pernyataan itu disampaikan saat pengantar jamuan makan siang di Megawati Institute, Menteng, Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026. Acara dihadiri Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta bersama sejumlah peraih Nobel dan Turing Award dalam delegasi Science for Development Summit 2026.

Anomali cuaca dan kesedihan nasional

Megawati menggambarkan Indonesia sedang diliputi keprihatinan. Ia menyinggung rangkaian gempa, banjir, serta fenomena yang dianggap janggal: turunnya salju di wilayah Papua. Menurutnya, gejala tersebut merupakan anomali yang wajib mendapat perhatian bersama.

Dalam penuturannya, perubahan lingkungan tidak lagi sekadar wacana jauh. Dampaknya sudah terasa di berbagai wilayah. Bagi masyarakat daerah, termasuk di Jawa Timur, sinyal ini menguatkan pentingnya memantau risiko hidrometeorologi yang kian tidak menentu.

Tutupan es Grasberg yang terus menipis

Ketua Dewan Pengarah BRIN itu menyoroti keunikan Indonesia yang memiliki kawasan bergunung dengan salju di Grasberg, Papua. Dulu kawasan tersebut penuh es. Kini, tutupan es disebut makin meleleh seiring laju pemanasan global.

Ia menekankan bahwa kondisi tersebut bukan hal sepele. Mencairnya es di dataran tinggi Papua menjadi indikator nyata tekanan iklim terhadap ekosistem lokal. Fakta ini disampaikan sebagai bagian dari keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan yang berlangsung cepat.

Tim BRIN dan proyeksi tiga tahunan

Megawati menjelaskan Badan Riset dan Inovasi Nasional telah mengirim tim peneliti ke lokasi. Hasil pemantauan yang disampaikannya menunjukkan pencairan berpotensi semakin cepat. Ia menyebut kemungkinan dalam kurang lebih tiga tahun es di gunung tersebut bisa hilang.

Pengiriman tim riset digambarkan sebagai langkah konkret untuk memverifikasi kondisi di lapangan. Temuan awal itu menjadi dasar seruan agar fenomena es Grasberg Papua tidak diabaikan dalam agenda kebijakan dan kesadaran publik.

Konteks pertemuan ilmuwan dan relevansi daerah

Pernyataan tersebut muncul dalam dialog Science for Development Summit 2026 yang mempertemukan tokoh negara, peraih penghargaan ilmiah, dan ilmuwan. Diskusi menyentuh perkembangan ilmu pengetahuan serta dampaknya bagi manusia dan kemanusiaan.

Bagi pembaca di Lumajang dan sekitarnya, isu ini relevan sebagai pengingat bahwa krisis iklim bersifat lintas pulau. Meski lokasi es berada di Papua, pola cuaca ekstrem, banjir, dan gangguan musim tetap bisa memengaruhi ketahanan pertanian serta infrastruktur di Jawa Timur. Kewaspadaan dini dan literasi lingkungan menjadi bekal praktis di tingkat komunitas.

Secara ringkas, Megawati menempatkan mencairnya es Grasberg sebagai contoh nyata tekanan pemanasan global di Indonesia. Dengan dukungan pemantauan BRIN dan forum ilmiah internasional, isu ini diharapkan mendorong perhatian lebih serius terhadap perlindungan lingkungan dan kesiapsiagaan bencana di seluruh daerah.

Sumber: Liputan6.

Tag: es Grasberg, Megawati, Papua, pemanasan global, BRIN, perubahan iklim, Jakarta, Science for Development