Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia atau Bakom RI meraih apresiasi pada kategori Transformasi Komunikasi Digital dan Kolaborasi Nasional dalam gelaran Pemimpin Daerah Awards 2026. Penghargaan diserahkan kepada Kepala Bakom RI Muhammad Qodari pada Kamis malam, 27 Agustus 2026, di Jakarta Concert Hall, iNews Tower, Jakarta, dalam acara yang diselenggarakan iNews Media Group.
Bagi pembaca di Lumajang dan wilayah Jawa Timur lainnya, isu ini relevan karena komunikasi pemerintah yang akurat menjadi tulang punggung kepercayaan publik di daerah. Pola kolaborasi nasional yang digaungkan Bakom RI menyentuh praktik pemberitaan lokal, media sosial warga, hingga kreator konten yang banyak diikuti masyarakat kabupaten.
Ucapan terima kasih dan konteks penghargaan
Muhammad Qodari menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada iNews Media Group atas apresiasi yang diberikan kepada institusinya. Ia menegaskan bahwa penghargaan itu bukan sekadar simbol, melainkan dorongan agar komunikasi pemerintah terus menyesuaikan diri dengan perubahan ekosistem informasi.
Dalam kesempatan tersebut, Qodari menggambarkan bahwa tantangan kerja Bakom RI kini jauh berbeda dibanding beberapa dekade lalu. Spektrum media tidak lagi terbatas pada ruang redaksi tradisional, melainkan merambah platform digital yang bergerak cepat dan saling bersinggungan.
Tiga kategori media yang diidentifikasi Bakom
Menurut Kepala Bakom RI, setidaknya ada tiga kategori media yang tengah menjadi perhatian. Pertama adalah established media, yakni media konvensional dan pers yang masih menjadi rujukan banyak pembaca. Kedua adalah media sosial yang menjadi kanal utama percakapan publik harian. Ketiga adalah media hibrida atau media baru, termasuk influencer dan kreator konten yang aktif membangun audiens di berbagai platform.
Pemetaan ini penting agar kebijakan komunikasi pemerintah tidak memihak satu kanal saja. Di daerah seperti Lumajang, warga tetap mengonsumsi berita dari media cetak dan radio lokal, sekaligus mengikuti unggahan kreator di media sosial. Karena itu, pendekatan yang merangkul seluruh spektrum dinilai lebih realistis.
Ancaman deepfake dan risiko hoaks
Selain tiga kategori di atas, Qodari menyoroti munculnya konten deepfake yang berpotensi memicu atau memperluas hoaks. Teknologi manipulasi gambar dan suara membuat verifikasi informasi makin mendesak. Ia menekankan perlunya merangkul media pers maupun media baru agar arus informasi palsu dapat ditekan.
Kolaborasi itu mencakup penyamaan pemahaman soal etika, kecepatan klarifikasi, dan tanggung jawab bersama dalam menyebarkan pesan publik. Tanpa jembatan antara pemerintah, redaksi, dan kreator, ruang kosong informasi mudah diisi narasi yang menyesatkan.
- Established media: pers dan media konvensional sebagai rujukan formal
- Media sosial: kanal percakapan cepat masyarakat luas
- Media hibrida: influencer dan kreator konten lintas platform
- Risiko deepfake: potensi hoaks yang memerlukan kewaspadaan bersama
Makna bagi komunikasi publik di daerah
Penghargaan Transformasi Komunikasi Digital dan Kolaborasi Nasional menempatkan Bakom RI pada posisi yang diharapkan mampu menjadi jembatan antara kebijakan pusat dan kebutuhan informasi warga. Model rangkulan terhadap media konvensional hingga kreator konten dapat menjadi acuan bagi perangkat daerah dalam menyusun strategi humas yang lebih terbuka.
Bagi ekosistem media di Jawa Timur, termasuk Lumajang, pesan inti dari acara itu jelas: kredibilitas publik dibangun lewat kerja sama, bukan monolog sepihak. Ketika pers, platform digital, dan kreator bergerak selaras dalam menolak hoaks, masyarakat memperoleh ruang informasi yang lebih sehat.
Dengan apresiasi yang diterima langsung oleh Muhammad Qodari, Bakom RI menegaskan komitmen menjaga komunikasi pemerintah tetap adaptif, kolaboratif, dan waspada terhadap ancaman konten palsu di era digital.
Sumber: Sindo News.
