HEADLINE
Indeks
Nasional

Menyikapi AI dengan Arah Moral: Pelajaran dari Cara Rhoma Irama Memakai Medium Modern

Perkembangan kecerdasan buatan memaksa masyarakat, termasuk pembaca di Lumajang dan Jawa Timur, memikirkan ulang cara menyikapi AI dalam kerja, belajar, dan kehidupan sehari-hari. Mesin kini mampu menulis, menerjemahkan, menghasilkan gambar, menggubah musik, meringkas bacaan, hingga mendampingi riset dengan tempo yang sulit disamai manusia. Peluangnya besar, tetapi pertanyaan etisnya sama mendesaknya: menerima sepenuhnya, menolak total, atau menempatkan teknologi di bawah kendali nilai manusia?

Peneliti pascasarjana Universitas Islam Jakarta, Ramdansyah, menekankan bahwa persoalan inti bukan sekadar adopsi perangkat lunak. Ketika mesin mengambil porsi lebih besar dalam aktivitas manusia, yang dipertaruhkan adalah kemampuan kita menentukan tujuan, ukuran baik-buruk, dan tanggung jawab moral. Tanpa arah itu, kecanggihan justru bisa mengaburkan siapa yang memutuskan dan atas dasar apa.

Bukan Dilema Baru di Era Teknologi

Respons terhadap medium baru sebenarnya berulang dalam sejarah. Pada awal 1970-an, radio dan televisi sudah memunculkan sikap saling bertolak belakang: ada yang menyambut sebagai saluran informasi dan hiburan, ada pula yang waspada karena mudarat sosial yang mungkin muncul. Pola serupa kini hadir pada teknologi informasi yang jauh lebih invasif dan otomatis.

Bedanya, AI tidak hanya menyalurkan pesan. Ia ikut menghasilkan konten, menawarkan ringkasan, dan mempengaruhi cara orang bekerja. Karena itu, sikap “pasang atau cabut” terlalu sederhana. Yang lebih relevan adalah menjaga agar manusia tetap menjadi pihak yang menetapkan kerangka nilai, bukan sekadar mengikuti keluaran algoritma.

Analogi Rhoma Irama: Tetap di Modernitas, Jaga Orientasi

Pengalaman kebudayaan Indonesia memberi analogi yang berguna. Rhoma Irama pernah menghadapi soal etis yang secara teknis berbeda, namun mirip dalam logika moral: bagaimana memanfaatkan kekuatan medium modern tanpa menyerahkan seluruh arah hidup kepada medium itu sendiri. Di sebagian pandangan, modernitas—musik, hiburan, media massa—pernah diposisikan seolah bertentangan dengan kesalehan personal.

Rhoma memilih jalan lain. Setelah perjalanan haji, ia tidak meninggalkan musik. Ia tetap merekam, tampil, hadir di televisi dan film, serta berkomunikasi dengan khalayak luas. Praktik keagamaan dan pandangan hidup Islam tetap dijaga di dalam aktivitas bermusik. Hasilnya bukan penerimaan buta terhadap modernitas, dan bukan pula pengasingan total dari kebudayaan populer.

Dari Soneta ke Gagasan Medium yang Bertanggung Jawab

Melalui Soneta dengan identitas Voice of Moslem, dangdut tetap berfungsi sebagai hiburan yang akrab di telinga publik, sekaligus diarahkan sebagai saluran dakwah, kritik sosial, pendidikan moral, dan refleksi keagamaan. Dari situ gagasan “musik bersih” mendapat arti praktis: karya tidak dilepaskan dari pertanggungjawaban kepada Tuhan dan sesama.

“Bersih” di sini tidak dimaksudkan sebagai stempel tunggal yang menghakimi seluruh jenis musik secara absolut. Intinya menolak anggapan bahwa medium kebudayaan netral bebas nilai. Seni tidak otomatis berdiri di ruang hampa moral; pencipta dan penyalur pesan ikut menanggung akibat sosial dari apa yang disebarkan.

  • Teknologi diterima sebagai alat, bukan penentu akhir orientasi hidup.
  • Nilai dan tanggung jawab tetap dipegang manusia, termasuk saat memakai AI.
  • Medium populer bisa diisi edukasi dan refleksi, bukan hanya hiburan kosong.

Implikasi Praktis bagi Pengguna AI Hari Ini

Logika yang sama dapat diterapkan pada kecerdasan buatan. Menolak AI secara total berisiko menutup akses pada efisiensi riset, penerjemahan, dan produksi pengetahuan. Sebaliknya, menyerahkan penentuan makna, etika, dan tujuan hanya kepada keluaran mesin melemahkan posisi manusia sebagai subjek moral. Jalan tengahnya: memakai AI untuk mempercepat kerja teknis, sambil mengunci keputusan penting pada pertimbangan manusia.

Bagi pelajar, guru, pelaku UMKM, jurnalis lokal, maupun aparat di daerah, ini berarti memeriksa ulang hasil mesin, menjaga privasi data, menghindari plagiarisme otomatis, dan memastikan konten yang disebar tidak menyesatkan. Di lingkungan seperti Lumajang yang semakin terhubung digital, literasi AI bukan sekadar mahir menekan perintah, melainkan mampu menilai kapan bantuan mesin cukup dan kapan pertimbangan nurani serta verifikasi fakta wajib didahulukan.

Pada akhirnya, berteman dengan kecerdasan buatan justru menuntut kedewasaan etis. Seperti sikap terhadap musik dan media massa di masa lalu, kemajuan tidak harus ditakuti habis-habisan, tetapi juga tidak boleh dibiarkan tanpa arah. Manusia tetap diminta menetapkan nilai, tujuan, dan tanggung jawab—agar AI memperkuat peradaban, bukan menggantikan kompas moralnya.

Sumber: Sindo News.

Tag: kecerdasan buatan, etika AI, Rhoma Irama, teknologi modern, literasi digital, budaya Indonesia, Ramdansyah