HEADLINE
Indeks
Nasional

El Nino Kuat Picu Sawah Kering di Bogor, Petani Jatim Diminta Siaga

Fenomena kekeringan El Nino yang semakin kuat kembali menekan kawasan pertanian di Jawa. Di Desa Weninggalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, lahan sawah terlihat retak dan mengering pada Selasa, 25 Agustus 2026, sehingga sejumlah petani terancam kehilangan hasil panen karena pasokan air hampir mentok.

Bagi pembaca di Lumajang dan wilayah Jawa Timur lainnya, laporan ini penting sebagai pengingat. Musim kemarau nasional yang sedang berlangsung tidak hanya menyentuh Jawa Barat; pola curah hujan rendah dan sifat hujan di bawah normal juga tercatat meluas di Pulau Jawa menurut pemantauan resmi.

Kondisi sawah retak dan ancaman gagal panen di Jonggol

Lahan persawahan di Weninggalih menampilkan permukaan tanah yang pecah-pecah. Minimnya air membuat aktivitas panen terhenti di sejumlah petak. Persoalan serupa sebenarnya sudah muncul lebih awal pada musim kemarau tahun ini, bukan gejala mendadak di akhir Agustus.

Laporan 5 Juli 2026 menyebut puluhan hektare sawah di desa tersebut mengalami gagal panen akibat gabungan kekeringan dan serangan hama wereng. Produktivitas anjlok tajam: dari lahan 6.000 meter persegi yang biasanya menghasilkan sekitar 2 ton gabah, petani hanya mendapatkan sekitar 60 kilogram.

Sumber air warga ikut mengering

Dampak kekeringan terus terasa hingga Agustus. Sumur galian dan mata air utama yang selama ini diandalkan warga dilaporkan berhenti mengeluarkan air karena periode kering yang panjang. Tanpa cadangan air memadai, pemulihan tanam menjadi semakin sulit.

Situasi setempat ini sejalan dengan tekanan iklim berskala lebih luas. Ketika cadangan air permukaan dan air tanah menipis bersamaan, risiko kehilangan musim tanam meningkat, terutama bagi petani yang bergantung pada irigasi tradisional dan hujan.

Data BMKG: El Nino sangat kuat dan IOD positif

Secara nasional, kekeringan tahun ini dikaitkan dengan El Nino pada kategori sangat kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat nilai indeks Nino3.4 pada dasarian II Agustus mencapai 2,99, naik dari 2,20 pada Juli. Angka tersebut menandakan pemanasan permukaan laut di Pasifik tropis yang mendukung berkurangnya hujan di wilayah Indonesia.

BMKG juga mencatat pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang memperparah kekurangan uap air menuju Indonesia. Kombinasi dua fenomena itu menjelaskan mengapa banyak daerah mengalami curah hujan rendah dalam waktu bersamaan.

  • Indeks Nino3.4 dasarian II Agustus: 2,99
  • Indeks Nino3.4 Juli: 2,20
  • Sekitar 79,9 persen wilayah Indonesia atau 559 Zona Musim telah masuk musim kemarau
  • Periode 25–31 Agustus diperkirakan tetap kering di Pulau Jawa, meski hujan lokal sporadis masih mungkin

Relevansi bagi petani Lumajang dan Jawa Timur

Pada 24 Agustus, BMKG menegaskan sebagian besar wilayah sudah berada di musim kemarau dengan sifat hujan di bawah normal. Untuk sepekan ke depan setelah tanggal tersebut, kondisi kering diperkirakan berlanjut di Pulau Jawa. Informasi ini relevan bagi petani di Lumajang yang mengelola padi dan palawija, meski titik pantauan rinci di laporan ini berfokus pada Bogor.

Kewaspadaan praktis meliputi pemantauan berkala prakiraan cuaca, penghematan air irigasi, penyesuaian jadwal tanam, serta koordinasi dengan penyuluh pertanian setempat jika gejala kekeringan atau serangan hama mulai muncul. Langkah antisipatif lebih aman daripada menunggu lahan benar-benar retak.

Dengan El Nino yang masih kuat dan IOD positif, tekanan terhadap sektor pertanian padi di sejumlah wilayah Jawa belum bisa diabaikan. Pemantauan data BMKG dan kesiapsiagaan di tingkat desa menjadi kunci agar risiko gagal panen dapat ditekan sedini mungkin, termasuk di sentra pertanian Jawa Timur.

Sumber: Okezone.

Tag: kekeringan El Nino, sawah Bogor, petani Jawa Timur, BMKG kemarau, IOD positif, gagal panen, Lumajang siaga