Di banyak tempat, termasuk lingkungan sosial di Lumajang dan wilayah lain di Jawa Timur, gesekan kecil sering membesar tanpa disadari. Pengendara marah hanya karena disalip, rapat organisasi retak karena siapa yang paling didengar, atau satu komentar di grup keluarga memicu diam berbulan-bulan. Di media sosial, perdebatan soal agama, pilihan publik, hingga klub sepak bola cepat bergeser dari uji gagasan menjadi serangan pribadi. Pola yang berulang itu menunjukkan mengapa kita mudah bermusuhan: bukan sekadar beda pendapat, melainkan perasaan bahwa diri dan kelompok sedang dipertaruhkan.
Ketika kritik terhadap pandangan dialami sebagai ancaman harga diri, konflik mendapat bahan bakar emosional. Yang diperebutkan lalu bergeser dari “apa yang benar” menjadi “siapa yang menang, siapa yang diakui, dan siapa yang dibuat lebih rendah”. Menjawab persoalan ini tidak cukup dengan menuding politik atau algoritma saja. Psikologi sosial dan psikologi klinis memberi kerangka untuk memahami bagaimana batas “kami” dan “mereka” terbentuk, serta mengapa sebagian orang mampu berbeda tanpa merasa runtuh.
Identitas kelompok yang membentuk “kami” dan “mereka”
Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rena Latifa, yang juga Wakil Ketua Kolegium Psikologi Klinis di Konsil Kesehatan Indonesia, menekankan bahwa konsep diri manusia tidak sepenuhnya individual. Melalui keanggotaan—bangsa, agama, daerah, profesi, kampus, atau organisasi—orang memperoleh rasa memiliki, nilai bersama, dan kebanggaan. Rumah sosial itu penting, tetapi begitu kategori “kami” mengeras, kategori “mereka” otomatis tersedia.
Temuan Henri Tajfel dan John Turner tentang identitas sosial menunjukkan bias bisa muncul bahkan dari pembagian kelompok yang nyaris sewenang-wenang. Eksperimen kelompok minimal menegaskan: manusia tidak selalu butuh dendam turun-temurun untuk mulai menguntungkan kelompok sendiri. Muzafer Sherif, lewat eksperimen Robbers Cave, menambah lapisan lain. Ketika dua kelompok bersaing memperebutkan sumber yang dianggap terbatas dan bernilai, stereotip dan permusuhan tumbuh cepat. Konflik sering lahir dari identitas, kompetisi, dan persepsi ancaman—bukan semata kebencian bawaan.
Kritik kelompok yang terasa menyerang diri
Identifikasi yang terlalu kuat menipiskan batas antara “saya” dan “kelompok saya”. Kritik terhadap kelompok lalu dialami sebagai hinaan pribadi. Orang berhenti menimbang apakah ada kebenaran dalam kritik, dan langsung bereaksi merasa direndahkan. Bias konfirmasi ikut bekerja: kesalahan di internal dianggap ulah oknum, sementara kesalahan satu orang di luar dijadikan bukti watak seluruh kelompok.
Pada titik ini, kebanggaan sehat perlu dibedakan dari narsisisme kolektif—keyakinan berlebihan akan keistimewaan kelompok sendiri yang disertai tuntutan pengakuan terus-menerus dari pihak luar, sebagaimana dibahas Agnieszka Golec de Zavala dan kolega. Kebanggaan yang matang tidak membutuhkan penghinaan terhadap orang lain. Sebaliknya, identitas yang rapuh sangat peka terhadap kritik, kurangnya penghormatan, atau keberhasilan pihak lain.
Ketika superioritas menutupi rasa tidak aman
Penampilan superior tidak selalu menandai rasa aman. Terkadang itu menjadi cara menutupi malu, perasaan kurang berharga, atau takut kehilangan kedudukan. Semakin seseorang bergantung pada pengakuan eksternal, semakin mahal harga sebuah kritik. Menyerang lawan menjadi jalan pintas untuk memulihkan perasaan berkuasa dan mengembalikan citra diri yang goyah.
Dalam ruang publik, gejala ini sering membungkus konflik kepentingan, status, akses, atau representasi sebagai pertarungan moral mutlak. Akibatnya, kompromi dicap pengkhianatan dan lawan diubah menjadi musuh. Diagnosis yang jernih membantu memisahkan perdebatan prinsip dari perebutan pengakuan, sehingga ruang dialog tidak langsung tertutup.
Pelajaran praktis untuk warga dan komunitas lokal
Bagi pembaca di Lumajang, kerangka ini relevan tanpa harus menunggu konflik besar. Di tingkat RT, organisasi keagamaan, sekolah, klub olahraga, maupun percakapan daring, menahan diri sebelum mempersonalisasi kritik bisa mengurangi eskalasi. Memisahkan gagasan dari harga diri, mengakui bias “kami-mereka”, dan tidak menuntut pengakuan berlebihan atas keunggulan kelompok adalah langkah sederhana yang sejalan dengan temuan psikologi sosial.
- Tanyakan dulu: apakah yang tersinggung adalah fakta, atau status kelompok?
- Bedakan kebanggaan sehat dari kebutuhan merendahkan pihak lain.
- Utamakan klarifikasi kepentingan dan representasi sebelum melabeli lawan sebagai musuh moral.
Memahami mengapa manusia mudah bermusuhan tidak meniadakan perbedaan. Ia justru membuka peluang agar perbedaan diuji tanpa menghancurkan relasi. Ketika harga diri tidak sepenuhnya digantungkan pada kemenangan kelompok, ruang untuk mendengar dan berkompromi tetap ada—baik di lingkup keluarga, organisasi, maupun pergaulan warga sehari-hari.
Sumber: Sindo News.
